Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, 17 February 2012

Si Budak Kecil & Sepohon Epal


Alkisah seorang ayah memanggil anak-anaknya yang masih kecil bercerita santai di katil pada suatu malam. Si anak berasak-asak mendengar kisah yang ingin diceritakan si bapa. Apa cerita si ayah kali ini?

Si ayah memberitahu dia ingin bercerita tentang sepohon epal yang rendang. Begini ceritanya..

Tersebutlah kisah sepohon epal yang besar lagi rendang di halaman rumah. Di situlah seorang kanak-kanak lelaki sering menghabiskan masanya bermain-main di bawah pohon epal itu setiap hari.

Kanak-kanak lelaki itu selalu memanjat pokok epal berkenaan bergayut pada dahan-dahan serta memakan buah-buah epal yang masak meranum serta tertidur di pangkalnya.

Budak lelaki itu teramat sayang kepada pohon epal yang sangat rendang, tempat dia bermain dan berteduh setiap hari.

Masa berlalu.. Si budak kecil itu kini meningkat dewasa. Dia kini sudah kacak dan bergaya, tidak mahu lagi bermain-main di pohon epal yang rendang itu.

Suatu hari, pemuda itu menjenguk seketika pohon epal itu. Wajah pohon epal itu nampak sedih. 

"Marilah bermain-main di bawah pokok ini!" ajak si pohon epal.

Pemuda itu enggan, lantas memberitahu dia bukan lagi anak kecil, suka bermain-main di bawah pokok epal seperti dulu.

Sekarang dia sudah remaja dan teringin membeli alat permainan yang lebih canggih malangnya tidak berduit.

"Aku pun tidak berduit, tapi engkaub oleh ambil semua buahku untuk membeli barang mainan kegemaranmu." Beritahu pohon epal.

Pemuda itu amat gembira lantas memetik semua buah epal yang masak untuk dijual di pasar. namun setelah menjual buah epal, anak muda itu tidak lagi menjenguk si pohon epal itu. Lalu si pohon epal bersedih.




Suatu hari pemuda itu datang lagi. Pohon epal amat gembira lalu berteriak, "Marilah bermain-main denganku!"

"Ah, aku tak ada masa! Aku sibuk, banyak kerja!" kata si pemuda itu.

Pemuda itu memberitahu dia sekarang sedang berusaha untuk membahagiakan keluarganya. Si pemuda amat memerlukan sebuah kediaman yang selesa sebagai tempat tinggal anak-anak dan isterinya tetapi tidak cukup duit untuk membeli rumah idamannya.

"Maaf aku pun tak ada duit, tapi kamu boleh tebang dahan-dahan dan segala rantingku ini untuk dijadikan rumah yang selesa." Lalu si pemuda itu menebang segala dahan dan ranting lantas berlalu pergi.

Si pohon epal gembira melihat pemuda itu bahagia bersama keluarganya tetapi tidak pernah menjenguknya lagi. Pohon epal berasa sedih dan kesepian.

Pada suatu musim tengkujuh, pemuda itu datang lagi menggigil kesejukan terkena hujan. Si pemuda lantas berlari-lari. Pohon epal sangat gembira menyambut kedatangan si anak lelaki yang bertahun tidak berjumpa.

"Marilah bermain-main dekatku!" kata si pohon epal.

"Aku sedih!" kata pemuda itu.

"Aku sudah dewasa, teringin berhibur dan belayar!" beritahu si pemuda.

"Maaf aku tak ada kapal, tetapi engkau boleh potong batang tubuhku dan gunakan untuk membuat kapal seperti engkau idamkan. Pergilah belayar, bersenang lenang di daratan dan lautan!" kata si pohon epal.

Si pemuda itu pun pergi belayar dan selepas itu tidak nampak lagi bayang-bayangnya menjenguk si pohon epal.

Akhirnya... setelah bertahun-tahun meninggalkan si pohon epal kesunyian, si pemuda dulunya gagah kini semakin tua, datang lagi. 

"Maaf anakku!" kata si pohon epal.

"Kini aku dah tak ada memiliki buah untuk engkau petik, makan dan jual!" keluh si pohon epal kecewa.

"Tak apalah, aku pun dah tak ada gigi lagi nak gigit epalmu!" kata si anak lelaki itu.

"Sekarang aku juga tak ada dahan dan ranting untuk engkau panjat seperti dulu.." kata si pohon epal semakin sebak.

"Tak mengapalah.. sekarang aku pun dah tak larat lagi nak panjat." kata si anak lelaki.

"Aku tak ada apa-apa lagi nak berikan kepadamu. Yang tinggal hanyalah akar-akar yang berselirat dan tidak berguna lagi!" kata si epal sambil menangis teresak-esak.

"Aku juga tidak perlukan apa-apa lagi sekarang. Aku hanya perlu tempat brehat setelah penat belayar dan sekian lama meninggalkanmu." kata si anak lelaki sebak.

"Oh, anakku! Tahukah engkau, akar-akar yang berselirat inilah tempat paling seronok untuk engkau berehat dan berbaring. Marilah baring di atas pelukan akarku yang telah tua ini." rayu si pohon epal.

Lantas si anak lelaki berbaring di atas akar pohon epal yang berselirat itu. Pohon epal sangat gembira lantas menangis kegembiraan setelah melepaskan rindu dapat bertemu dengan si anak lelaki setelah terpisah sekian lama..

"Tamatlah cerita.. si pohon epal," beritahu ayah kepada anaknya.

Lantas si ayah memberitahu bahawa kisah itu adalahuntuk renungan anak-anaknya.

Pohon itu lambang orang tua kita. Semasa kecilkita seronok bermain-main dan bergurau senda dengan ayah  dan ibu kita. Tapi setelah dewasa kita pergi meninggalkan mereka untuk mencari ilmu dan pengalaman hidup.

Sebagai anak lelaki, kita hanya datang menjenguk ayah dan ibu sekali sekala apabila perlukan pertolongan atau meminta bantuan.

Namun, ayah dan ibu tetap membantu kita selagi terdaya hatta sanggup mengorbankan nyawanya sendiri asalkan anak-anaknya dapat hidup bahagia.

Pembaca sekalian, mungkin anda terfikir anak lelaki itu bertindak kejam terhadap si pohon epal, tetapi realitinya itulah hakikat cara kita memperlakukan terhadap orang tua kita.

Renung-renungkanlah...


Wednesday, 9 November 2011

Syair Dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud


Aku simpan cintaku sehingga engkau menderita kerana sikapku
Mereka mencelamu dan celaan mereka adalah aniaya
Musuh-musuhmu menghasut
Engkau mencintai dan telah menjadi bahan gurauan
Tak ada manfaatnya menyimpan cinta
Engkau bagai harimau betina yang mati kepayahan
Pada bekas tapak Hindun atau bagaikan bibir yang sakit
Aku menjauhi kekasih kerana takut dosa
Padahal menjauhi kekasih adalah dosa
Rasakanlah bagaimana (rasanya) menjauhi kekasih yang kau sangka
Bahawa itu tindakan bijaksana padahal mungkin itu bohong



(Sebuah syair dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, salah satu dari tujuh orang
ulama ahli fiqh dari kalangan tabi’in (fuqaha assab’ah), salah seorang guru utama Khalifah
Umar bin Abdul Aziz, seorang ulama yang produktif menulis syair, yang pernah jatuh cinta)


Penjelasan:

Menjaga perasaan kepada berlainan jantina merupakan kunci kejayaan seseorang agar terpelihara harga dirinya. Meskipun sama-sama saling menyukai, apabila belum bersedia untuk melanjutkan ke alam pernikahan, hendaknya perasaan itu kita tutup rapat-rapat. Meskipun kita tahu, keduanya sebenarnya saling mengharapkan. Di saat seperti ini, segala bentuk qorinah/tanda,apakah itu berupa perhatian,pemberian, hendaknya kita maknai dengan pemaknaan yang sebenar-benarnya.

Seseorang yang mengumbar perasaan cintanya, hanya akan menjadi bahan gurauan orang-orang di sekelilingnyanya. Apakah hubungannya itu dapat berlanjutan ke alam pernikahan, mahupun apabila hubungan tersebut gagal menuju tangga pernikahan,sebagaimana sebuah hadits menyatakan, ”Tidak ada yang terbaik bagi dua orang yang saling
mencintai kecuali pernikahan (HR. Ibnu Majah)

Sedangkan menunda-nunda ikatan pernikahan saat hati sudah tertambat pada diri seseorang, atau berusaha menghindar terhadap seseorang yang kita sukai merupakan bentuk penyeksaan,seperti seekor kucing yang dijauhkan dari makanan yang baru ditemuinya. Ia merasa begitu kehilangan, kerana dijauhkan dari sesuatu yang selama ini ia harapkan. So,segera pastikan, cari sebuah jawapan,kunjungi orang tuanya, tentukan tanggal pelaksanaan. Insya Allah hati akan menjadi tentram. Wallauhu’alam..

Di sisi yang lain, menyimpan perasaan yang begitu mendalam akan merosak jiwa seseorang, kerana ingatannya tidak akan lari darinya. Alangkah baiknya apabila kecederungan tersebut segera kita wujudkan dalam bentuk ikatan pernikahan..

Thursday, 27 October 2011

A Cute Love Story

I have seen her for the first time... I think love at first sight!

Always I used to be around her

This is the point where our friendship started...

Then after one day I proposed her

And this is how I tried to impress her




Finally she was impressed
We had a very good time

 But elders came to know and they didn't allow us to meet

We tried to convince them

 But of no use,so we decided to go away

 And lived happily thereafter!


Saturday, 8 October 2011

Hadiah Buat Ayah

ADA APA DALAM KOTAK

Suatu hari ketika seorang ayah membeli beberapa gulung kertas bungkusan hadiah, anak perempuannya yang masih kecil dan manja sekali, meminta satu gulung.
“Untuk apa?” tanya si ayah.
“Nak bungkus hadiah” jawab si kecil.
“Jangan dibuang-buang ya.” pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.
Keesokan harinya, pagi-pagi lagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya, “Yah, Ayah…….. ada hadiah untuk Ayah.”
Si ayah yang masih menggeliat, matanya pun belum lagi terbuka sepenuhnya menjawab, “Sudahlah…. nanti nanti saja.”
Tetapi si kecil pantang menyerah, “Ayah, Ayah, bangun Ayah, dah pagi” “Eh… kenapa ganggu ayah… masih terlalu awal lagi untuk ayah bangun.”
Ayah terpandang sebuah bungkusan yang telah dibalut dengan kertas pembungkus yang diberikan semalam.!
“Hadiah apa ni?”

“Hadiah hari jadi untuk Ayah. Bukalah Yah, buka sekarang.”
Dan si ayah pun membuka bungkusan itu.
Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga.
“Eh.. kenapa kosong?? Tak ada isi di dalamnya. Kan Ayah dah kata jangan buang-buang kertas bungkusan Ayah. Membazir tu”
Si kecil menjawab, “Tak Ayah….., ada isi tu… Tadi kan, Puteri masukkan banyak sekali ciuman untuk Ayah.”
Si ayah merasa terharu, dia mengangkat anaknya. Dipeluk dan diciumnya.
“Puteri, Ayah belum pernah menerima hadiah seindah ini. Ayah akan selalu menyimpan hadiah ini. Ayah akan bawa ke pejabat dan sekali-sekala kalau perlu ciuman Puteri, Ayah akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya!”
Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa-apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi?
Lalu, walaupun kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata si ayah, namun di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya sebuah kotak kosong. 


 
Moral:


Kosong bagi seseorang boleh dianggap penuh oleh orang lain.
Sebaliknya, penuh bagi seseorang boleh dianggap kosong oleh orang lain.
KOSONG dan PENUH – kedua-duanya merupakan produk dari “fikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi bererti, bermakna, kerana anda memberikan erti kepadanya, memberikan makna kepadanya.
Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan erti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong…
“Dan sesiapa yang berjuang (menegakkan Islam) maka sesungguhnya dia hanyalah berjuang untuk kebaikan dirinya sendiri; sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajatkan sesuatupun) daripada sekalian makhluk” (al-Ankabut:6)